Sembahlah Alloh Sampai Datang Kematian

SEMBAHLAH ALLAH SAMPAI DATANG KEMATIAN

 

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

 

KHUTBAH PERTAMA

Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah  

Sebagai seorang hamba, makan kita harus senantiasa beribadah kepada Allah. Aktifitas ini harus senantiasa bersemayam di dalam diri kita sehingga datang kematian mejemput. Para Rasul dan para sahabat nabi telah mempraktekan hal ini dan mencontohkan kepada kita. Mereka senantiasa melaksanakan ibadah kepada Allah sehingga datang kematian. Dan hal inipun sebagai aplikasi dari firman Allah yang berbunyi:

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang keyakinan (Kematian) kepadamu.” (al-Hijr [15]: 99)

Syekh Abdurrohman As-Sa’di menafsirkan ayat ini dengan perkataannya:

(اليقين) أي: الموت، أي: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه ، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم، تسليما كثيرا .

“Teruslah bertaqorrub kepada Alloh dengan melaksanakan berbagai macam ibadah pada setiap waktu, dan Nabi Muhammad Sholollohu’alaihi Wasallam telah melaksanakan perintah Alloh ini sehinga beliau Sholollohu’alaihi Wasallam senantiasa beribadah sehingga datang keyakinan atau kematian dari Alloh Aazza Wajalla.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah  

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala baik perkataan ataupun perbuatan, baik yang tampak jelas maupun yang tersembunyi. Dan ibadah ini tidak akan diterima oleh Alloh kecuali setelah memenuhi dua syarat yaitu keikhlasan kepada Alloh disaat menjalankan ibadah serta adanya kesesuaian ibadah dengan ibadah yang dilaksanakan oleh Rosululloh Sholollohu’alaihi Wasallam.

Tentang keikhlasan Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..” (QS. al-Bayyinah [98]: 5)

Keihlasan berarti memurnikan ketaatan hanya untuk Allah, ruku dan sujud kita hanya diberikan kepada Allah dan karena Allah bukan untuk yang lain. Dan syarat selanjutnya agar ibadah diterima oleh Allah adalah adanya kesesuaian ibadah dengan ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Jika ibadah yang dilakukan tidak berdasarkan contoh Rasul maka ibadah tersebut tidak akab diterima oleh Allah berdasarkan sabda beliau shalallahu’alaihi wasallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa saja yang berbuat perkara baru dalam urusan kami (agama Islam) yang tidak ada contoh darinya maka hal itu tertolah.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Alloh yang Maha Hakim, telah membuat aturan ibadah yang beragam. Ada yang Alloh wajibkan setiap hari seperti solat lima waktu, ada juga yang diwajibkan setiap minggu seperti solat jum’at, ada ibadah tahunan seperti saum ramadhan dan zakat mal, bahkan ada juga yang Alloh wajibkan sekali seumur hidup, itupun bagi yang mampu, seperti ibadah haji.

Hal ini ditetapkan oleh Alloh Ta’ala berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna. Semakin sulit suatu ibadah, maka semakin jarang pula perintah untuk melaksanakannya dan semakin mudah suatu ibadah maka semakin sering pula perintah untuk melaksanakannya. Semua ini ditetapkan oleh Alloh untuk membedakan orang yang ta’at dan orang yang membangkang kepada-Nya.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah  

Ibadah yang kita lakukan akan berdampak positif bagi kehidupan kita di dunia maupun di akherat. Dengan ibadah yang kontinyu kita berharap Allah memberikan kebaikan di dua kehidupan kita. Ketanangan dan kenyamanan hidup di dunia dan ketantraman hidup di akherat dengan memasuki jannah Allah, sebagaimana janjinya:

“Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) syurga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bersandar (diatas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan dan minuman yang banyak. dan disamping mereka (ada bidadari-bidadari) yang menundukan pandangannya dan sebaya umurnya. Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari berhisab. Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezki dari Kami yang tiada habis-habisnya. (QS. Shod [38]: 49-54)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah  

Ada beberapa usaha yang harus kita lakukan agar kita tetap tsabat dalam Dien Islam ini, diantaranya:

  1. Senantiasa iltizam (berpegang teguh) dengan Al-Qur’an, dengan membaca, menghafal dan mengamalkannya. Al-Qur’an adalah tali Alloh yang sangat kuat, diapun adalah shirotul mustaqiem, siapapun yang berpegang teguh dengannya maka dia akan dijaga oleh Alloh dan siapapun yang berpaling darinya maka dia akan tersesat dan celaka.
  2. Mentadaburi kisah-kisah para Nabi, dan menjadikan mereka sebagai qudwah hasanah di dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Berdoa kepada Alloh Ta’ala agar hati kita ditsabatkan (Ditetapkan) di atas Islam. Dan ini adalah sifat dari Ibadurrohman (Hamba Alloh yang Maha Penyayang), sebagaimana Alloh mengajarkan kita agar berdoa:

“Wahai Rabb Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi-Mu; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron [3]: 8)

  1. Berdzikir kepada Alloh, dan ini termasuk penyebab tsabat terbesar bagi seorang mu’min.
  2. Senantiasa berkawan dengan orang yang sholih, dengan para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan dengan para da’i yang menyeru kejalan Alloh Azza Wajalla.
  3. Yakin dengan pertolongan dari Alloh dan Sesungguhnya kemenangan hanya untuk Islam, dan ini adalah metode Nabi Muhammad Sholollohu’alaihi Wasallam dalam meneguhkan keimanan sahabatnya ketika mereka mendapat siksaan. Khobbab bin Arats pernah mengadu kepada Nabi Muhammad Sholollohu’alaihi Wasallam ketika dia mendapat siksaan, dan meminta agar Nabi mendo’akannya, maka Rosulullohpun bersabda:

وَاللهِ لَيَتِمَنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبِ مِنْ صَنْعَاءَ إِلىَ حَضْرَمَوْت لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلىَ غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ

“Demi Alloh, sungguh perkara (Agama) ini akan sempurna sehingga seorang yang berjalan dari Sona’a ke Hadromaut tidak merasa takut kecuali kepada Alloh dan kepada serigala atas dombanya, akan tetapi kalian tergesa-gesa. (HR. al-Bukhori)

  1. Sabar kepada Alloh Ta’ala, sesuai dengan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”  (Al-Baqoroh [2]: 153)

  1. Membayangkan keni’matan Jannah dan pedihnya adzab Neraka, serta selalu mengingat kematian. Inipun menjadi sebab terbesar agar kita Tsabat di atas dien ini.

إنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآيـُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صّلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا فَإِنْ لمَ ْتَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفيِ اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَلَمِيْن.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *