Nasihat Ayah Kepada Anaknya

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, salawat serta salam mudah-mudahan selalu tercurahkan kepada Rasulullah n, keluarganya dan sahabatnya serta orang-orang yang diberi petunjuk dengan petunjuk-Nya.

Sahabat dakwah, ada banyak sekali cara untuk menyentuh hati seorang muslim. Terkadang hati seseorang bisa tersentuh saat membaca ayat-ayat ancaman, terkadang saat membaca ayat-ayat janji kemenangan. Terkadang juga ada yang tersentuh saat menjalani episode hidup yang penuh tekanan, terkadang ada yang tersentuh dan mendapat hidayah saat membaca hadits-hadits nabawi, terkadang juga ada yang tersentuh saat mendengarkan berbagai kisah-kisah yang penuh makna.

Berikut merupakan kisah seorang ayah yang terkenal dan kaya raya sedang sakit parah. Menjelang ajal menjemput, dikumpulkanlah anak-anaknya. Beliau berwasiat:

Ayah: “Anak-anakku jika Ayah dipanggil Allah Ta’ala yang Maha Kuasa, ada satu permintaan ayah kepada kalian. Tolong pakaikan kaus kaki kesayangan ayah walaupun kaus kaki ayah itu telah bolong”

Anak: “Tapi Ayah..”

Ayah: “Tolong pakaikan kaus kaki kesayangan ayah walaupun kaus kaki ayah itu sudah bolong”

Anak: “Kenapa ayah mau memakainya?”

Ayah: “Ayah ingin memakai barang kesayangan yang penuh kenangan semasa meritis usaha diperusahaan ayah. Dan minta tolong kenangan kaus kaki itu dikenakan ketika ayah dikuburkan nanti”

Akhirnya sang ayah wafat.

Ketika mengurus jenazah dan saat akan dikafani, anak-anaknya meminta kepada sang ustad yang mengurus jenazah ayahnya, agar dikenakan kaus kaki kenangan ayahnya sesuai wasiatnya. Akan tetapi sang ustad menolaknya.

Ustad: “Maaf, secara syari’at hanya dua lembar kain putih saja yang diperbolehkan dikenakan kepada mayat”

Maka terjadilah perdebatan antara anak-anak yang ingin memakaikan kaus kaki robek kenangan ayahnya dengan pak ustad yang melarang mengenakannya.

Karena tidak ada titik temu, akhirnya didatangkanlah penasihat sekaligus notaris keluarga tersebut. Sang notaris menyampaikan surat wasiat.

Notaris: “Ayo kita baca bersama-sama, siapa tahu ada petunjuk”

Maka dibukalah surat wasiat sang mayit untuk anak-anaknya yang dititipkan kepada notaris tersebut.

Ayah: “Anak-anaku, pasti sekarang kalian sedang bingung karena dilarang memakaikan kaus kaki bolong kepada jenazah ayah. Lihatlah anak-anakku, padahal harta ayah sangat banyak. Uang, beberapa mobil, tanah, kebun, sawah,  dan beberapa rumah mewah tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah meninggal dunia. Bahkan kaus kaki bolong saja tidak boleh dibawa mati. Itu berarti tidak ada berartinya harta dunia, kecuali iman dan amal kebaikan kita. Anak-anakku, inilah yang ingin ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dengan dunia yang hanya sementara. Pada akhirnya teman sejati kita hanyalah iman dan amal shalih. Salam sayang dari ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju ridha Allah Ta’ala.

Sesungguhnya manusia itu berdasarkan fitrahnya, telah dijadikan untuk memberikan manfaat kepada orang-orang yang telah mati, khususnya setelah mereka meninggal dunia secara langsung, dengan prasangkaan dan anggapan bahwa amalan yang mereka kerjakan itu bisa memberikan manfaat kepada si mayit ketika di dalam kuburan dan setelah ia dibangkitkan darinya.

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Dan pada riwayat Ibnu Majah dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ مَا يُخَلِّفُ الرَّجُلُ مِنْ بَعْدِهِ ثَلاَثٌ : وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ وَصَدَقَةٌ تَجْرِي يَبْلُغُهُ أَجْرُهَا وَعِلْمٌ يُعْمَلُ بِهِ مِنْ بَعْدِهِ

“Sebaik-baik apa yang ditinggalkan oleh seseorang setelah kematiannya adalah tiga perkara: anak shalih yang mendo’akannya, shadaqah mengalir yang pahalanya sampai kepadanya, dan ilmu yang diamalkan orang setelah (kematian) nya”.

Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.

Allahu A’lam.


? Untuk kelancaran dakwah dan sosial ini kami membuka kesempatan kepada kaum muslimin untuk menjadi bagian dari tugas yang mulia ini, dengan menyalurkan Donasi dakwah, zakat, wakaf, sedekah dan infak terbaik anda melalui :

? No Rek BNI Syari’ah : 0303158362

? No Rek Mandiri Syari’ah : 70552059191

? No Rek Mandiri : 1330011948536

? No Rek BRI: 001201000149568

? No Rek BNI: 303664038

@ Semua rekening a.n Yayasan Nurul Ummah Nusantara

? Mohon konfirmasi melalui SMS/WA ke ➡️ 0857-9540-9020 (SMS/WA)

Dengan Format Ketik Nama Anda#Jumlah Transfer#Nama Bank

Contoh :
➡️ Abdullah#Rp 500.000#BSM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

linked in share button