MITOS SEPUTAR HEWAN

Banyak hewan yang dikeramatkan manusia sehingga menjadi kepercayaan-kepercayaan mungkar yang turun temurun dari generasi ke generasi seperti:

Kebo Bule (Kiai Slamet) di Kota Solo.

Kebo Bule adalah kerbau yang berkulit albino (kulit putih). Konon, kebo bule ini hadiah dari bupati Ponorogo (Jatim) untuk Sri Susuhunan Pakubuwono II di Kartosuro Hadiningrat (tempat keraton Solo sebelum pindah ke Surakarta saat ini). Ketika mencari lokasi keraton baru, Sri Susuhunan Pakubuwono II mempercayakan kepada kerbau tersebut untuk mencari tempat keraton baru. Karena kerbau tersebut digunakan untuk mengawal pusaka Kiai Slamet, maka nama tersebut dinobatkan untuk si kerbau. Bahkan ada yang mengklaim kerbau tersebut adalah keturunan Kiai Slamet.

Pada malam 1 Suro pukul 00.00 WIB setiap tahunnya, upacara kirab (jalan bareng) untuk mengarak kerbau ini di gelar di Keraton Solo. Siapa saja yang disentuh atau menyentuh kerbau ini, diyakini akan mendapat keberkahan. Bahkan kotoran kerbau saat acara kirab, banyak orang yang berebut kotoran tersebut karena diyakini penuh berkah.

Bulus Jimbung di Klaten.

Bulus atau kura-kura Jimbung adalah sepasang kura-kura yang dikeramatkan oleh banyak masyarakat Klaten. Bulus tersebut hidup di sebuah sendang (semacam rawa) di daerah Jimbung, Kalikotes, Klaten.

Sepasang kura-kura tersebut diberi nama Kiai Poleng dan Nyai Poleng yang diklaim jelmaan dari Abdi Dewi Mahdi yang telah menjadi bulus dan hingga kini masih mendiami sendang tersebut. Adapun sendang ini dibuat oleh Pangeran Jimbung. Menurut legenda yang tidak jelas sumbernya, banyak orang yang telah berhasil mencari kekayaan dengan jalan pintas meminta bantuan kepada Kiai Poleng dan Nyai Poleng. Namun dampaknya, kelak jika berhasil kaya, badan orang tersebut akan menjadi seperti bulus Jimbung.

Jika ada orang hendak mencari kekayaan dengan jalan pintas dengan cara itu, maka harus berjalan ke arah timur tepatnya di perbukitan pegunungan kapur, dari jalan ke arah waduk Jombor. Di sana terdapat rumah tua yang berdiri kokoh di atas perbukitan kapur. Orang tersebut harus berani berpuasa dan tidur di rumah tua itu. Penduduk sekitar menyebutnya sebagai rumah Demit (setan ganas). Di bulan Syawal, terutama setelah sekitar satu pekan setelah Idul Fitri, tempat tersebut diserbu banyak pengunjung.

Ayam Cemani.

Ayam Cemani merupakan ayam lokal asli Indonesia. Warna seluruh badannya hitam legam mulai dari cengger, paruh, bola mata, lidah, rongga mulut, bulu, kaki, dan cakar. Cemani sendiri berasal dari bahasa jawa yang artinya hitam legam.

Ayam ini diyakini membawa kedamaian, menambah rezeki, memudahkan jodoh, melariskan dagangan, hingga mampu membawa kesuksesan negosiasi, baik saat perang ataupun konflik. Atas dasar itulah, cemani menjadi buruan orang-orang berkantong tebal.

Harga seekor Cemani bisa mencapai puluhan juta rupiah. Hal tersebut karena ayam Cemani digunakan sebagai tumbal ritual mistik seperti: ritual penggalian harta karun, sesajen, khodam pengobatan, ruwatan bangunan pabrik, gedung, mall, plaza, hotel, ruko, toko, kantor, rumah, ruwatan penglaris dagangan di kantin, toko, kios, pasar, ritual ruwatan pembangunan proyek-proyek besar seperti: pembangunan jembatan, bendungan, terowongan, eksplorasi pertambangan, pembangunan jalan tol, terminal, bandara, pelabuhan serta proyek-proyek besar lainnya yang berhubungan dengan alam.

Selain itu, ayam Cemani juga biasa digunakan untuk ritual sedekah bumi, laut, gunung, kawah, ruwatan memandikan benda pusaka, sulit jodoh, pelet dan sebagai syarat kesempurnaan ilmu kekebalan.

Burung Hantu.

Burung hantu merupakan hewan yang dijadikan mitos banyak orang. Kicau burung hantu di malam hari dipercayai banyak orang sebagai pertanda kematian. Keper-cayan ini bukan hanya di Indonesia, di India dan Yunani juga tersebar mitos burung hantu ini. Di Romawi, konon burung hantu adalah jelmaan dari tukang sihir yang mencari darah para bayi untuk dihisap.

Mitos lain tentang burung hantu yaitu keyakinan bahwa membunuh burung hantu akan mengakibatkan kematian bagi si pem-bunuh tersebut dalam waktu yang relatif cepat.

Kucing Hitam.

Mitos tentang kucing hitam banyak sekali tersebar. Di Jerman, ada mitos apabila ada seekor kucing hitam yang melompat ke atas tempat tidur seseorang yang sedang sakit, maka kematian akan datang pada orang tersebut. Di Finlandia, masyarakat di sana percaya bahwa kucing hitam adalah makhluk yang membawa jiwa manusia ke alam baka. Di India, kucing hitam dipercaya bahwa jiwa yang berreinkarnasi dapat dibebaskan dengan cara melempar kucing hitam ke dalam api.

Di Indonesia, tidak hanya kucing hitam saja, tetapi juga mencakup semua jenis kucing. Jika seseorang di dalam perjalanan menabrak seekor kucing hingga mati, diyakini banyak orang akan ada musibah yang menimpa penabrak dalam berlalu lintas. Akan tetapi, bila kucing tersebut dikuburkan oleh penabraknya maka ia akan selamat.

Di dalam Islam, tidak ada hewan yang dikeramatkan. Hanya saja ada beberapa hewan yang diperintahkan untuk tidak dibunuh tanpa ada sebab seperti: semut, lebah,  burung hud-hud, burung shurod (jenis burung di antara cirinya terdapat garis hitam mengelilingi kepalanya) dan katak.

Ada juga hewan yang diperintahkan untuk di bunuh seperti: cicak, tikus, kalajengking, rajawali, gagak, dan anjing yang suka menggigit. Semua hal tersebut memang terdapat dalil dan kemaslahatan di dalamnya.

Mitos Lain Seputar Hewan.

Selain hewan-hewan yang dikeramatkan di atas, banyak juga mitos berkaitan tentang peristiwa terkait dengan hewan. Seperti: kejatuhan cicak di atas ubun-ubun seseorang, hal itu diyakini oleh kebanyakan masyarakat Jawa sebagai tanda datangnya musibah yang akan menimpanya. Sebagai penangkalnya, mereka harus memburu cicak tersebut dan membunuhnya.

Jika hendak bepergian dan bertemu dengan ular melintasi jalan di depannya, maka diyakini ada musibah yang akan menimpanya.

Suara burung gagak yang berada di sekitar rumah, diyakini akan ada kematian anggota keluarga. Kupu-kupu yang masuk rumah atau kicau burung Prenjak di depan rumah, diyakini bahwa pemilik rumah akan kedatangan tamu.

Jika di dalam rumah dihuni tokek yang bunyinya ganjil, maka ia mendoakan keberkahan kepada penghuni rumah, maka jangan dibunuh, dan lain-lain.

Di dalam Islam, tidak menetapkan perilaku hewan kecuali terdapat dalilnya. Seperti ketika mendengar kokok ayam, kita dianjurkan untuk berdoa, karena ia sedang melihat malaikat. Ketika mendengar ringkikan keledai, maka kita dianjurkan untuk berlindung kepada Alloh  karena ia melihat setan. Semua itu memang ada dalilnya dari Nabi .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *