MITOS SEPUTAR ADAT-ISTIADAT

Kualat ketika melanggar adat.

Banyak mitos tersebar di masyarakat Jawa, bahwa siapa saja yang tidak menaati tradisi nenek moyang maka dia akan kualat. Kualat artinya akan mendapat petaka atau kutukan karena meninggalkan adat istiadat nenek moyang.

Banyak sekali adat di masyarakat Jawa seperti ruwatan, sesajen, larung, dan lain-lain. Mereka sangat meyakini bahwa ketika adat tersebut dihilangkan, maka akan terjadi petaka pada masyarakat tersebut. Semua ini tidak lain adalah tipuan setan belaka.

Adat Ketika Kehamilan.

Ketika seorang wanita sedang hamil dalam tradisi masyarakat Jawa dan Sunda, banyak upacara adat yang dilakukan. Seperti: upacara tiga bulanan atau empat bulanan, upacara mitoni (tingkeban) atau tujuh bulanan, upacara mitoni di dalam tradisi Jawa sangat sakral, dimana seorang ibu hamil harus dimandikan dengan tujuh kembang setaman dan dilakukan oleh tujuh sesepuh. Ritual memakai baju 7 kali, ritual memecah telur ayam kampung dan lain-lain. Selain itu, di masa kehamilan tujuh bulan ke atas banyak sekali mitos yang menjadi pantangan bagi ibu hamil, seperti larangan membawa gunting, larangan keluar malam hari, memakan pisang dempet, sang suami dilarang membunuh hewan dan lain-lain.

Dalam tradisi Sunda, ada juga upacara Reuneuh Mundingeun yang dilaksanakan apabila perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan. Semua upacara tersebut diyakini akan mendatangkan keberkahan bagi bayi maupun keluarga. Tentu semua mitos ini sama sekali tidak ada dasarnya di dalam agama Islam.

Adat Kelahiran Bayi.

Ketika bayi terlahir di dunia upacara adat untuk mencari keberkahan banyak juga dilakukan di masyarakat Jawa atau Sunda pada umumnya. Adapun di Sunda, seperti upacara memelihara Tembuni atau penguburan ari-ari, Upacara Nenjrag Bumi yaitu  upacara memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali di dekat bayi, Puput Puseur yaitu setelah bayi terlepas dari tali pusatnya. Upacara Nurunkeun ialah upacara pertama kali bayi dibawa ke halaman rumah. Upacara cukuran dimaksudkan untuk membersihkan atau menyucikan rambut bayi dari segala macam najis.

Adapun di Jawa seperti upacara Brokohan, yaitu ketika bayi lahir dan menguburkan ari-ari, Upacara sepasaran yaitu ketika bayi berumur 5 hari, upacara selapanan yaitu ketika bayi berumur 35 hari. Upacara adat Mudhun siti yaitu ketika bayi berumur 7 bulan dengan memasak aneka nasi, membuat tangga terbuat dari tebu dan kurungan ayam dari bambu. Semua adat tersebut diyakini akan mendatangkan keberkahan.

Di dalam agama Islam, ritual yang dibenarkan dalam masalah ini hanyalah aqiqah dan mencukur rambut bayi pada hari ketujuh.

Adat Pernikahan

Adat pernikahan juga seringkali tidak lepas dari mitos, seperti adat kejawen. Misalnya: menginjak telur, saling melempar gantal (daun sirih yang diikat dengan benang putih) dan aneka sesajen yang ditaruh di setiap pojokan desa, pinggiran sumur bahkan di atas rumah ketika pernikahan. Semuanya penuh dengan nuansa mistik yang sampai saat ini masih bercokol kuat dalam tradisi masyarakat Jawa.

Adat Kematian.

Adat saat terjadi kematian dipenuhi dengan mitos dan mistik. Bukan hanya di Jawa, Bali, Batak, dan Toraja, upacara kematian penuh dengan nuansa adat yang mengandung mitos. Di Jawa, setelah kematian mayit banyak ritual yang harus diselenggarakan, seperti upacara nelung dina (3 hari kematian mayit), pitung dina (7 hari), matang puluh (40 hari), nyatus (100 hari), mendhak pisan (satu tahun pertama), mendhak pindho (tahun kedua) dan nyewu atau upacara 1.000 hari kematian mayit. Setiap upacara selalu dibarengi dengan makan-makan, sesajian, yasinan, tahlilan, dan lain sebagainya.

Adat Persembahan kepada Dewa-dewi.

Adat persembahan juga tidak terlepas dari nuansa mitos.  Seperti: upacara “Methik” atau “guwakan” bagi para petani kejawen sebelum memanen padi. Ritual ini diperuntukkan kepada Dewi Sri yang diklaim memberikan keberkahan pangan bagi para petani. Sekaligus bentuk permohonan agar hasil pertaniannya tidak diganggu hama. Sedekah bumi juga marak diselenggarakan di banyak desa dalam rangka menghormati dewa dan dewi.

  1. Mitos Pohon dan Tanaman.

Dalam dunia kejawen dan mistik, banyak sekali pohon dan tanaman yang dipercaya mempunyai nilai mistik. Seperti pohon pinang merah, diyakini akan memberikan kelancaran rezeki dan menangkal santet atau teluh tatkala ditanam di depan rumah. Menanam bunga matahari atau bunga sedap malam, mempunyai nilai supranatural untuk keharmonisan keluarga. Menanam pohon kelor dan bunga kenanga, mampu menetralisir dan menangkis guna-guna. Menanam pohon talas besar bisa membuat pencuri dan tuyul malas. Menanam anggur di depan rumah, menjadikan rezeki seret. Menanam bunga kamboja dan beringin di depan rumah akan mengundang roh-roh jahat. Bunga kamboja yang berjumlah ganjil akan mendatangkan rezeki lancar. Menanam bambu buta (bambu tidak berongga) mampu menakut-nakuti jenis makhluk gaib tertentu. Menanam cabe di depan rumah, akan menyebabkan penghuni rumah sering bertengkar. Semua mitos tersebut hanyalah kebatilan yang diada-adakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *