MITOS TENTANG HARI DAN BULAN KERAMAT

Malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon

Malam Jumat kliwon diyakini masyarakat sebagai malam yang angker dan bernuansa mistis. Banyak tayangan televisi yang menjadikan malam jumat kliwon sebagai acara mistik.

Beragam ritual sihir, santet, tenung dan bongkar mayat dilakukan di malam Jumat kliwon. Bahkan acara puncak puasa 40 hari dalam budaya kejawen di akhiri pada malam Jumat kliwon.

Dalam tradisi masyarakat Eropa, mitos Friday the 13th sudah menjadi hal yang tidak asing lagi.  Friday the 13th berarti hari Jumat tanggal 13 di bulan apapun merupa-kan hari yang membawa kesialan.

Adapun selasa kliwon di dalam budaya Jawa dan Bali dinamakan hari Anggoro kasih, yaitu hari yang istimewa menurut mereka. Biasanya ritual-ritual mistik dan kejawen tidak lepas dari dua hari tersebut.

Adapun di dalam Islam, tidak ada hari keramat. Hari Jumat adalah hari yang mulia dan penuh berkah. Bahkan ia adalah hari raya pekanan umat Islam. Tidak ada di dalam Islam hari sial meskipun Selasa atau Jumat kliwon.

Bulan Suro (Muharram)

Bulan Suro diyakini orang kejawen sebagai bulan sial dan petaka. Mereka begitu takut dan antipati menyelenggarakan hajatan di bulan Suro, khususnya resepsi pernikahan. Mereka meyakini bahwa siapa saja yang menikah di bulan Suro, maka rumah tangganya akan hancur dan berantakan. Karena di bulan tersebut para Demit (setan jahat) mencari mangsa untuk tumbal.

Oleh karena itu, di bulan Suro banyak orang yang melakukan upacara mistik seperti siraman malam 1 Suro (ritual mandi dengan tujuh kembang setaman), sesajen dan bakar kemenyan di kuburan, jamasan pusaka (ritual memandikan benda pusaka seperti keris), larung sesaji, upacara ruwatan untuk menolak marabahaya pada bulan tersebut.

Bukan hanya di Indonesia, di Iran penganut agama sesat Syiah juga mengeramatkan bulan Muharom dengan dalih mencintai Husain bin Ali . Mulai dari tanggal 1 sampai 9 Muharom diadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju ke al-Husainiyah (tempat peribadatan orang Syiah). Peserta pawai hanya mengenakan sarung atau celana saja sedangkan badannya terbuka. Selama pawai mereka memukul-mukul dada dan punggung dengan rantai besi yang ujungnya benda tajam sehingga luka dan berdarah. Suasana ini membuat yang hadir merasa sedih, bahkan tidak sedikit yang menangis histeris. Cara ini jelas sekali jauh dari ajaran Nabi  dan sahabat Husain . Orang-orang Syiah bukan hanya menyimpang dari ajaran Husain , bahkan telah keluar dari Islam, karena banyak mengkufuri pondasi-pondasi utama dalam Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *