Merajut Ukhuwah dan Rahmah dengan Shalat Berjama’ah: Kajian di Masjid Amaliya Ciomas-Bogor

Persatuan dan kesatuan ummat Islam adalah impian dan harapan setiap muslim. Dengan mewujudkan persatuan diantara ummat Islam maka kejayaan Islam dengan izin Allah dapat terwujud.

Alhamdulillah pada minggu 09 Juli 2017, Yayasan Nurul Ummah Nusantara sukses mengadakan kajian pagi bertempat di Masjid Al-Amaliyah Perum. Taman Pagelaran Ciomas – Bogor

Dengan Pembicara Ust. Wilyuddin A.R. Dhani, S.Pd., M.Ak. Beliau membawakan tausyiah dengan tema “Merajut Ukhuwah dan Rahmah dengan Shalat Berjama’ah”

Kegitan tersebut dilaksanakan pada pukul 09.00 sampai dengan waktu Dzuhur dan dihadiri puluhan peserta yang merupakan warga sekitar kompleks Taman Pagelaran Ciomas-Bogor.

Persatuan dan kesatuan ummat Islam adalah impian dan harapan setiap muslim. Dengan mewujudkan persatuan diantara ummat Islam maka kejayaan Islam dengan izin Allah dapat terwujud.

Persatuan adalah cita-cita setiap muslim, namun pada kenyataannya, sering kali persatuan dalam segala hal seakan mustahil untuk dapat diwujudkan. Perbedaan demi perbedaan terus saja bermunculan di tengah-tengah masyarakat. Yang demikian itu dikarenakan perbedaan yang terjadi memiliki banyak sebab dan latar belakangnya. Dan sebagai konsekwensinya hukum perbedaan tersebut turut berbeda seiring dengan latar belakang perbedaan tersebut.

Contoh perbedaan terpuji (mubah).

Imam Bukhary dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi  bersabda kepada para sahabatnya:

لا يصلين أحد العصر إلا في بني قريظة )

Janganlah ada dari kalian seorangpun yang mendirikan sholat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah.

Para sahabat segera bangkit menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Namun ketika waktu shalat Ashar tiba, mereka baru sampai di tengah perjalanan. Menyikapi kondisi ini, sebagian sahabat berkata:

لا نصلي حتى نأتيها

Kita tidak akan mendirikan shalat Ashar kecuali setelah tiba di perkampungan Bani Quraidhah. Sedangkan sebagian sahabat lainnya berkata:

بل نصلي، لم يرد منا ذلك

Kita tetap mendirikan shalat pada waktunya, karena sabda beliau tidaklah dapat dipahami secara tekstual (maksudnya: agar kita bersegera tanpa menunda sedikitpun dan dengan alasan apapun).

Ketika perbedaan pemahaman dan amalan antara para sahabat ini disampaikan kepada Rasulullah SAW, ternyata beliau tidak menyalahkan keduanya.

Praktek ulama’ Islam sejak zaman dahulu adalah teladan paling tepat untuk kita teladani saat ini. Betapa tidak, berkat kedewasaan sikap mereka dalam menghadapi permasalahan-permasalahan khilafiyah diantara mereka, persatuan ummat Islam berhasil mereka pertahankan.

Abdurrahman bin Yazid mengisahkan: Khalifah Utsman bin Affan mendirikan shalat di Mina empat rakaat (tanpa diqashar). Mengetahui hal ini, sahabat Abdullah bin Mas’ud segera mengingatkannya dengan berkata: Dahulu aku mendirikan shalat di Mina bersama Nabi SAW, Abi Bakar, Umar dua rakaat-dua rakaat (tanpa diqashar). Dan bahkan pada awal khilafah Utsman beliau juga mendirikan shalat dua rakaat-dua rakaat (diqashar). Namun kini, beliau berubah sikap dan mendirikan shalat empat rakaat-empat rakaat (tanpa diqashar).

Walau demikian, tatkala tiba waktu shalat, sahabat Abdullah bin Mas’ud tetap mendirikan shalat berjamaah di belakang sahabat Utsman empat rakaat-empat rakat tanpa diqashar.

Tak ayal lagi, sikap beliau ini mengherankan sebagian sahabatnya, sehingga mereka bertanya: Engkau mengkritisi Khalifah Utsman, namun demikian engkau tetap saja shalat di belakangnya empat rakaat-empat rakat tanpa diqashar?

Sahabat Abdullah bin Mas’ud menjelaskan sikapnya ini dengan berkata: Perselisihan itu buruk. (Abdurrazzaq, Abu Dawud dan lainnya).

Keteladanan sikap ini terus diwarisi oleh kaum muslimin di sepanjang masa, sehingga mereka saling berguru menimba ilmu dari sebagian yang lain. Sebagaimana mereka juga saling memaklumi perbedaan yang ada diantara mereka, sehingga dengan tanpa sungkan mereka berjamaah sholat di belakang sebagian yang lain.

Allohu A’lam..


Sesungguhnya harta yang ada pada kita cuma titipan dari Allah saat kita hidup di dunia.

Saat kita lahir, kita tidak membawa apa-apa.
Begitu pula saat kita meninggal, cuma kain kafan yang membungkus badan kita.
Harta yang kita hamburkan untuk dunia, itu bukan harta kita yang sebenarnya. Rumah, Mobil, dsb akan menjadi milik ahli waris kita.
Sebaliknya harta yang kita belanjakan di jalan Allah untuk Dakwah dan Jihad itulah yang jadi harta kita yang sebenarnya.

Allah ta’ala berfirman,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqoroh: 261]

Bagi kaum muslimin yang berminat untuk donasi tetap maupun tidak tetap, atau menyalurkan zakat, wakaf dan sedekah dapat melalui:

MANDIRI: 1330011948536

BSM: 70552059191

BNI Syariah: 0303158362

BRI: 001201000149568

BNI: 303664038

Semua rekening atas nama Yayasan Nurul Ummah Nusantara

Konfirmasi Transfer Format: Nama#Jumlah Transfer#Nama Bank

Kirim ke 0857-9540-9020 (SMS/WA)

Kami ucapkan jazaakumullaahu khayron wa baarokallaahu fiykum.

Atau melalui konfirmasi transfer langsung

[contact-form-7 404 "Not Found"]

Data yang Anda Kirimkan, Insya Alloh Terjaga Kerahasiaannya.

Jazakumullohu Khoiron Kepada Para Donatur yang telah menginfakkan hartanya di jalan Allah Ta’ala dengan mempercayakan pengelolaannya kepada Yayasan Nurul Ummah Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

linked in share button