MACAM-MACAM DAN HUKUM RIBA

Riba Nasi’ah.

Riba nasi’ah ialah tambahan yang diambil penjual dari pembeli sebagai ganti atas penundaan pembayaran utang.

Contohnya: menjual barang dengan harga 5 juta rupiah dalam tempo satu bulan, tetapi pembeli harus membayar Rp 5.200.000 karena membayar lebih dari satu bulan.

Riba nasi’ah terkadang dinamakan riba al-Qordhi, seorang meminjamkan sesuatu kepada orang lain dengan syarat mengem-balikannya dengan lebih banyak atau lebih baik, atau memberi syarat memanfaatkan hak milik sang peminjam.

Contohnya: seorang kreditor yang memberi utang 20 juta rupiah, tetapi debitor (pengutang) harus mengembalikan kepadanya sebesar 25 juta rupiah atau dia memberi utang 20 juta rupiah, tetapi selama belum bisa mengembalikan, sawah pengutang digunakan oleh yang memberi utang.

Riba Fadhl.

Riba fadhl ialah melebihkan penukaran barang yang ditimbang atau ditakar dengan jenis yang sama.

Contohnya: penukaran 5 kg beras yang berkualitas biasa dengan 3 kg beras yang bagus. Dinamakan riba fadhl karena 5 kg ditukar dengan 3 kg atau seseorang menukar 5  kg beras berkualitas bagus dengan 4 kg yang bagus juga.

Rosululloh  bersabda, “Menukar emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, hendaknya sama timbangannya atau taka-rannya dan harus dilakukan tunai. Maka ba-rangsiapa yang melebihi atau minta dilebihi, sungguh ia jatuh kepada perkara riba, yang mengambil atau yang memberi, sama hukumnya.” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad)

Di dalam riwayat lain, Nabi  bersabda, “Karena itu, apabila berlainan jenisnya maka boleh kamu jual sekehendakmu asalkan dengan tunai.” (HR. Muslim)

Dari Sa’id bin Mussayyib  bahwa Abu Huroiroh  dan Abu Sa’id  berkata, “Sesungguhnya Rosululloh  mengutus saudara Bani’ Adi al-Anshori untuk dipe-kerjakan di Khoibar. Kemudian dia datang dengan membawa kurma janib (salah satu jenis kurma yang berkualitas tinggi dan bagus). Rosululloh  bertanya, “Apakah semua kurma Khoibar seperti itu?” Ia menjawab, “Tidak, wahai Rosululloh. Sesungguhnya kami membeli satu sho’ dengan dua sho’ dari al-jam’ (salah satu jenis kurma yang jelek, ditafsirkan juga dengan campuran kurma).” Rosululloh  bersabda, “Jangan kamu lakukan itu, tetapi (tukarlah) yang setara atau juallah kurma (yang jelek itu) lalu belilah (kurma yang bagus) dengan uang hasil penjualan itu.” (HR. Bukhori)

Pada hadis di atas, ada enam macam benda riba jika ditukar dengan beda nilainya atau ditunda pembayarannya. Sebagian ulama menyamakan dengan enam jenis ini pula barang yang mempunyai kesamaan sebab, emas dan perak berupa nilai harga, sedangkan empat jenis lainnya berupa takaran dan timbangan dari bahan makanan.

Kesimpulannya adalah menjual barang yang sama jenisnya pada barang ribawi, seperti mata uang satu jenis (dolar dengan dolar) dan makanan yang ditimbang atau ditakar, maka harus serah terima langsung dan harus sama nilainya sekalipun berlainan kualitasnya. Jika berlainan jenisnya, boleh menjualnya dengan berbeda kadarnya.

Hukum Riba

Riba hukumnya haram, bahkan tergolong dosa besar berdasarkan dalil al-Qur’an dan hadis yang shohih. Adapun dalil al-Quran banyak sekali sebagaimana yang telah disebutkan. Sedangkan dalil dari hadis, di antaranya pada saat hari Arofah, Nabi  berkhotbah dihadapan kaum Muslimin seraya bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya riba jahiliyah sudah dilenyapkan. Dan, riba pertama dari riba (yang pernah ada dalam kehidupan) kami, yang aku lenyapkan adalah riba (yang dilakukan) Abbas bin Abdul Muththolib. Sesungguhnya semua riba itu telah dilenyapkan.” (HR. Muslim)

Dengan berdalil hadis ini, Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah  menjelaskan bahwasanya hukum riba adalah haram berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *