KEUTAMAAN MEMPERBANYAK LANGKAH KE MASJID

إنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أجْراً في الصَّلاةِ أبْعَدُهُمْ إلَيْهَا مَمْشىً ، فَأَبْعَدُهُمْ ، وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإمَامِ أعظَمُ أجْراً مِنَ الَّذِي يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ

“ Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah yang paling jauh berjalan menuju shalat, lalu yang jauh berikutnya. Dan orang yang menunggu shalat sampai ia melaksanakannya bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang shalat kemudian tidur.”

HR. Imam Bukhari (no. 4774) dan Imam Muslim (no. 662) dari sahabat Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu.

CATATAN FAEDAH:

Di dalam hadits mulia ini terdapat keutamaan shalat di masjid yang jauh dari rumahnya dengan berjalan kaki daripada berkendaraan, bila tidak ada kesulitan padanya.

Namun bila terdapat dua masjid, salah satunya dekat dan yang kedua jauh dari rumahnya, manakah yang lebih utama ?

Pendapat yang lebih kuat -in syaa Allah-, bahwa shalat di masjid terdekat itu lebih utama karena bisa mempererat hubungan antara tetangga, bisa memberikan nasehat dan bisa mendakwahi mereka sehingga dapat terwujud manfaat bagi orang-orang yang berada di dekat rumahnya.

 Kecuali apabila terdapat pada masjid yang jauh itu manfaat yang lebih besar seperti, ditegakkan padanya sunnah Nabi dengan benar, bacaan imam shalatnya sesuai dengan tajwid yang benar, serta jauh dari perkara yang mungkar, kebid’ahan dan perkara kesyirikan, maka shalat padanya tentu lebih utama daripada shalat di masjid dekat rumahnya.

Sebagaimana dahulu para sahabat Nabi -radhiyallahu ‘anhum- lebih memilih untuk shalat bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di masjid beliau daripada shalat di kampung mereka, agar mendapatkan keutamaan bermakmum di belakang Rasulullah, dan juga untuk mendapatkan keutamaan shalat di masjid Rasulullah (Masjid Nabawi). Lalu setelah shalat bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka shalat kembali di kampung mereka.

Seperti yang dilakukan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu di masa Nabi dalam keadaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di saat itu mengetahui dan tidak mengingkarinya. Silahkan dilihat Fatawa wa Rasail Syaikh Al-Utsaimin
(jilid: 14/hal: 241-142).

Tetapi jika sulit untuk mencari masjid lain, maka tetaplah shalat bersamanya dalam rangka melaksanakan kewajiban shalat berjama’ah dan shalatmu itu tetap sah di dua keadaan tersebut.”
(Fatawa Lajnah Ad Daimah (jilid: 7/hal: 366).

Wallahu a’lam bishshowab

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *