Keagungan Solat Berjama’ah

Dirikanlah solat lima waktu di masjid dengan berjama’ah, jangan sampai tertinggal atau melalaikannya. Terlalu banyak faidah dan keutamaan dari solat berjama’ah di masjid. Solat berjama’ah lebih utama 27 derajat dibandingkan solat sendirian.

Rosululloh  sangat menekankan ummatnya untuk menghadiri solat jama’ah. Bahkan, ancaman besar pernah Rosululloh  sampaikan bagi orang-orang yang tidak mendatangi solat berjamaah. Abu Huroiroh  meriwayatkan, Rosululloh  bersabda:

(( وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ ))

“Demi Alloh yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku ingin menyuruh orang mengumpulkan kayu api, kemudian aku perintahkan muadzin mengumandangkan azan, dan aku memerin-tahkan seseorang menjadi imam kaum muslimin, kemudian akuakan pergi mengecek orang-orang yang tidak datang ke Masjid untuk solat (berjamaah), kemudian aku bakar rumah-rumah mereka bersama mereka.(HR. Bukhori dan Muslim)

Demikian besar keutamaan solat berjama’ah sehingga Rosululloh  bersabda:

(( لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِيْنَ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْحَبْواً ))

“Tidak ada solat yang lebih berat bagi orang munafiq selain dari solat Subuh dan Isya’. Andaikata mereka mengetahui pahalanya, tentu mereka akan mendatanginya meskipun sambil merangkak.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Setiap langkah yang dilangkahkan ke masjid akan menghapuskan dosa dan menaikkan derajat seorang hamba sebagaimana Rosululloh  bersabda: “Solat seseorang dengan berjama’ah lebih utama dan lebih banyak pahalanya dengan dua puluhan (25 atau 27) derajat daripada solat sendirian di rumah atau di pasar. Hal ini dikarenakan, apabila salah seorang di antara kalian berwudhu’ dengan sempurna, kemudian pergi ke masjid dan tidak ada niatan lainnya kecuali untuk solat dan tidak melangkahkan kakinya kecuali karenanya, maka akan ditinggikan derajatnya dan akan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid. Dan para malaikat akan mendoakan seseorang di antara kalian selama masih berada di tempat (solat)nya seraya mereka berkata: Ya Alloh, sayangi dan ampunilah dia, selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats.” (HR. Bukhori dan Muslim)

)) مَنْ غَدَا إِلَى المَسْجِدِ أَوْ رَاحَ، أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الجَنَّةِ نُزُلاً  كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ  ((

“Barangsiapa menuju masjid pada waktu siang hari atau malam hari, maka Alloh akan menjamu dengan hidangan di surga setiap siang dan malam.” (HR. Muslim)

))أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ،‍‍ قَالَ: «إِسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الخُطَا إِلَى المَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ»((

“Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang menjadi sebab Alloh menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kalian?” mereka menjawab, “Mau, wahai Rosululloh!”. Beliau pun berkata, “Menyempurnakan wudhu walaupun dalam kondisi berat, memper-banyak langkah ke masjid, dan menanti solat setelah solat, maka itulah ribat, maka itulah ribat, maka itulah ribat.” (HR. Muslim).

Semua amalan ini disamakan pahalanya dengan pahala penjagaan perbatasan wilayah kaum muslimin di saat jihad, itulah yang disebut dengan ribat.

)) مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا أَعْطَاهُ اللَّهُ   مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلَّاهَا وَحَضَرَهَا، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا((

“Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudian pergi menuju (masjid) dan mendapati orang-orang telah selesai solat, maka Alloh  memberinya pahala seperti pahala orang yang solat berjamaah tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Abu Dawud, Dishohihkan oleh al-Albani)

Saking semangatnya para sahabat Nabi  dalam melakukan solat berjama’ah sehingga sahabat Ubay bin Ka’ab  pernah meriwa-yatkan:

“Saya mengenal seorang sahabat Anshor, yang rumahnya paling jauh dari masjid, tetapi ia tidak pernah tertinggal solat berjamaah di masjid. Seseorang pernah memberikan saran kepada-nya, “Coba engkau membeli keledai sebagai kendaraan yang bisa kau tunggangi di waktu malam gelap gulita dan juga di saat musim panas!” Ia menjawab, “Justru aku tidak ingin kalau rumahku berada di sebelah masjid, sebab aku ingin perjalananku ke masjid dan kembaliku ke keluargaku dicatat sebagai amal kebaikanku. Maka Nabi  bersabda, “Alloh telah mengumpulkan semua itu untukmu.” (HR. Muslim)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ, قَالَ: كُنَّا إِذَا فَقَدْنَا الرَّجُلَ فِي الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ أَسَأْنَا بِهِ الظَّنَّ.

Abdulloh bin Umar  berkata, “Kami para sahabat, jika kami tidak menjumpai seseorang di antara pada solat Subuh dan Isya’, maka kami berburuk sangka kepadanya.(HR. Hakim)

Keutamaan solat berjama’ah di masjid sangatlah besar, khususnya solat subuh dan Isya’. Usman bin Affan  berkata: Aku mendengar Rosululloh  bersabda:

(( مَنْ صَلَّى العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ ))

“Siapa yang Solat Isya’ berjamaah, seolah-olah bangun setengah malam, dan siapa yang Solat Subuh berjamaah, maka bagaikan solat satu malam penuh.” (HR. Muslim)

Demikian besarnya keutamaan solat berjamaah. Maka, alangkah ruginya orang yang menyia-nyiakan solat berjamaah.

Hatim Al-Asom  berkata, “Satu hari aku pernah tertinggal solat berjamaah, maka hanya Abu Ishaq saja yang mentakziahiku (belasungkawa), seandainya anakku yang  meninggal tentulah yang  mentakziahiku lebih dari sepuluh ribu orang. Ini karena orang-orang menganggap bahwa musibah agama itu lebih ringan daripada musibah dunia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *