Jangan Biarkan Ia Ternoda

Diantara kewaspadaan yang terkadang kurang dimiliki pada diri seorang Muslim secara syumul (menyeluruh) adalah manakala ia harus mengimplementasikan eksistensi Aqidah Al wala’ wal Baro’-nya. Dalam menyikapi simbol-simbol kebesaran & kebanggaan agama lain  misalnya.

Terkadang pula, Dalih atas nama tasamuh ( toleransi ) untuk semua itu, menjadi hujjah terdepan dari pada keagungan kitab suci Al Qur’an & As Sunnah sebagaimana yang difahami oleh para salaful Ummah.

Hindarilah dirimu dari segala kehinaan …

Bersihkanlah imanmu dari potensi penodaan …

Jangan gadaikan ia dengan sesuatu murahan …

Saudara imanku_ Ketahuilah bahwa sekecil apapun investasi seorang Muslim dalam memeriahkan simbol kekufuran, maka tetap akan mendapatkan balasan dari saham yang ia tanam.

Alloh berfirman :

ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒﺮِّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﻻَ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻹِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍْ ﺍﻟﻠّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏ

” Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” ( QS. Al Maidah : 2)

Perhatikanlah wahai saudara imanku, Betapa ketika seseorang mengucapkan selamat natal kepada kaum nasrani, maka di dalam ucapannya tersebut
terdapat wala’ (kasih sayang kepada mereka, menuntut adanya kecintaan, serta menampakkan keridhaan kepada agama mereka).

Seseorang yang mengucapkan selamat natal kepada mereka, sama saja dia setuju bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan merupakan salah satu Tuhan diantara tiga Tuhan. Dengan mengucapkan selamat pada hari raya mereka, berarti dia rela terhadap simbol-simbol kekufuran. Meskipun pada kenyataannya dia tidak ridha dengan kekafiran, namun tetap saja tidak diperbolehkan meridhai syiar agama mereka, atau mengajak orang lain untuk memberi ucapan selamat kepada mereka. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, hendaknya kita tidak menjawabnya karena itu bukan hari raya kita, bahkan hari raya itu tidaklah diridhai Allah ta’ala.

Demikianlah intisari dari penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam lembaran goresan  pena beliau; Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim mukholafatu ash habil jahim, pun demikian dalam Fatawanya.

Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan :

” Adapun ucapan selamat terhadap simbol-simbol kekufuran secara khusus disepakati hukumnya HAROM_  misalnya;  mengucapkan selamat atas hari raya atau puasa mereka dengan mengatakan, ‘Hari yang diberkahi bagimu’ atau ‘Selamat merayakan hari raya ini’, dan sebagainya. Yang demikian ini, meskipun si pengucapnya terlepas dari kekufuran, tetapi perbuatan ini termasuk yang diharamkan, yaitu setara dengan ucapan selamat atas sujudnya terhadap salib, bahkan dosanya lebih besar di sisi Allah dan kemurkaan Allah lebih besar daripada ucapan selamat terhadap peminum khamr, pembunuh, pezina, dan lainnya dan banyak orang yang tidak mantap pondasi dan ilmu agamanya akan mudah terjerumus dalam hal ini serta tidak mengetahui keburukan perbuatannya.

Barangsiapa mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena kemaksiatan, bid’ah, atau kekufuran, berarti dia telah mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah.”

Dengan demikian, tidaklah diperkenankan seorang muslim mengucapkan selamat natal meskipun hanya basa-basi ataupun hanya sebagai pengisi
pembicaraan saja.

Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *